Penulis : Dr Nurkhalis Mukhtar LC MA

Lahir dari sebuah keluarga yang taat beragama di Blang Poroh Labuhan Haji Aceh Selatan. Sejak kecil sudah ditanamkan dalam dirinya semangat mencintai ilmu pengetahuan. Setelah menjalani pendidikan dasarnya di kampung halamannya, Teungku Imam Syamsuddin tertarik memfokuskan kajian keilmuannya pada ilmu agama.

Setelah mendengar sebuah pesantren yang masyhur di Blangpidie, tertariklah Teungku Imam Syamsuddin untuk belajar di Dayah Bustanul Huda yang didirikan oleh seorang ulama lulusan Yan Keudah dan Kruengkalee Abu Syekh T. Mahmud bin T. Ahmad Lhoknga yang akrab dikenal dengan Abu Syech Mud Blangpidie.

Pesantren Bustanul Huda didirikan pada tahun 1928 sepulangnya Abu Syech Mud dari Yan Keudah atas permintaan Teuku Sabi Ulee Balang Kuta Batee atau Blangpidie pada masa itu.

Bustanul Huda juga merupakan Dayah yang telah mengorbit para ulama-ulama kharismatik Aceh, sebut saja di antara mereka adalah: Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy, Abu Calang Lamno, Abuya Haji Abdul Hamid Kamal, Syekh Muhammad Bilal Yatim al-Khalidy, Abuya Jailani Kota Fajar, Teungku Syekh Adnan Mahmud Bakongan, Abu Ibrahim Woyla ulama sufi, Abu Ghafar Lhoknga, dan banyak para ulama lainnya.

Maka belajarlah Teungku Imam Syamsuddin di Bustanul Huda dalam beberapa tahun sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang yang alim dan memahami secara baik seluk beluk agama. Setelah menjadi seorang Teungku, pulanglah Teungku Imam Syamsuddin ke kampungnya Blang Poroh Labuhan Haji Aceh Selatan.

Beliau mulai membuka usaha kecil-kecilan berniaga dan lain-lain. Walaupun telah sampai di kampung halaman, semangatnya dalam menimba ilmu belum berkurang sedikitpun. Sehingga pada tahun 1940 pulanglah dari Padang seorang ulama muda yang sangat masyhur namanya yaitu Abuya Muda Waly al-Khalidy yang telah mengembara mencari ilmu di berbagai tempat, dan mendirikan sebuah dayah yang bernama Dayah Darussalam di Blangporoh Labuhan Haji Aceh Selatan.

Kepulangan Abuya dari Padang Sumatera Barat tidak disia-siakan oleh Teungku Imam Syamsuddin, mulailah Teungku Imam belajar dan mendalami kembali kajian keilmuannya yang pernah dipelajarinya dari Abu Syech Mud Blangpidie.

Dengan segenap kesungguhan Teungku Imam Syamsuddin belajar di Darussalam yang kemudian telah mengantarkan beliau sebagai seorang alim yang rasikh ilmunya.

Kemungkinan besar Abu Imam Syamsuddin merupakan murid Abuya Syekh Muda Waly periode awal, dimana pada periode ini terdiri dari para ulama-ulama yang umumnya telah alim-alim seperti Abu Yusuf ‘Alamy menantu Abuya Syekh, Abuya Aidarus Kampari anak dari Syekh Abdul Ghani Kampari guru Tarekat Abuya Syekh, Abuya Syech Jailani Kota Fajar, Teungku Syech Marhaban Kruengkale anak Abu Syech Hasan Kruengkale, Teungku Syekh Adnan Mahmud Bakongan, Abu Keumala dan para ulama lainnya.

Diantara sekian banyak murid Abuya yang cerdas-cerdas dan alim-alim, maka Abu Imam Syamsuddin salah satu yang muncul dari mereka selain Abu Yusuf Alamy yang juga dikenal alim. Kepakaran Abu Imam Syamsuddin dalam bidang ilmu logika melebihi santri-santri lainya.

Sehingga banyak pertanyaan dari Abuya Syekh Muda Waly sering Abu Imam Syamsuddin yang menjawabnya. Bahkan disebutkan Abu Imam Syamsuddin ini pernah menguji para murid yang diajarkannya dalam beberapa pertanyaan yang membutuhkan jawaban berhari-hari dan diantara muridnya yang mewarisi ilmu logika tersebut adalah Abu Syam Marfaly Blangpidie, pelanjut kepemimpinan Dayah Bustanul Huda setelah Abuya Hamid Kamal Blangpidie.

Setelah melihat perkembangan keilmuan yang sangat pesat pada diri Abu Imam Syamsuddin, pada tahun 1956 datanglah ke Pesantren Darussalam Labuhan Haji beberapa tokoh masyarakat Sangkalan Abdya ke Abuya, untuk meminta seorang ulama yang akan mengayomi dan menjadi guru bagi masyarakat Sangkalan.

Maka diutuslah Abu Imam Syamsuddin oleh Abuya Syekh Muda Waly. Sesampai di Sangkalan Abdya, Abu Imam Syamsuddin kemudian membina masyarakat dan membangun sebuah lembaga pesantren yang beliau namakan dengan Dayah Darul Aman. Demi mendengar telah berdiri pesantren baru di sangkalan, maka datanglah santri dari berbagai wilayah Aceh Selatan, Blangpidie dan wilaayah sekitarnya.

Pada periode ini, Abu Imam Syamsuddin berhasil mendidik murid-muridnya untuk mengajarkan ilmu agama ke masyarakat ketika mereka kembali kelak. Berkat kesungguhan dan kesabaran dalam mendidik masyarakat setempat, maka Dayah yang dibangun oleh beliau telah mulai mengepakkan sayap menuju kemajuan.

Santrinya yang sudah mulai banyak, antusiasme masyarakat yang semakin tinggi, terlebih lagi pimpinan Dayahnya merupakan ulama yang diperhitungkan.

Setelah beberapa tahun memimpin Dayah Darul Aman Sangkalan, di tahun 1961 wafatlah guru Abu Imam Syamsuddin yaitu Abuya Muda Waly al-Khalidy. Pada waktu itu beliau sedang berada di kampung halamannya Blangporoh Labuhan Haji. Datanglah perwakilan dari Dayah Darussalam yaitu Abu Jailani Kota Fajar sebagai alumni yang dituakan memohon kepada Abu Imam Syamsuddin untuk memimpin Dayah Darussalam setelah wafatnya Abuya Syekh Muda Waly.

Karena anak pertama Abuya Syekh Muda Waly sedang di Jakarta untuk mempersiapkan diri belajar ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Maka setelah musyawarah mufakat dari seluruh perwakilan masyarakat dan keluarga Abuya, maka ditunjuklah Abu Imam Syamsuddin sebagai Pimpinan Dayah Darussalam Labuhan Haji.

Pada masa kepemimpinan Abu Imam Syamsuddin, umumnya murid-murid Abuya sudah banyak yang pulang kampung dan menjadi pimpinan pesantren dan sebagai ulama di wilayahnya masing-masing.

Pada masa itu juga anak-anak Abuya Syekh Muda Waly belajar langsung kepada Teungku Imam Syamsuddin. Sebut saja misalnya Abuya Jamaluddin Waly yang kemudian memimpin Darussalam setelah Abu Imam Syamsuddin di tahun 1968 dalam usia dua puluh tiga tahun sehingga beliau disebut KM atau Kiyai Muda Jamaluddin Waly.

Murid lannya ialah Abu Haji Mohd Syam Marfaly, seorang ulama teguh dan tegas dari Blangpidie, pimpinan Bustanul Huda Blangpidie. Dan adik dari Abuya Jamaluddin Waly yaitu Abuya Haji Amran Waly juga murid dari Abu Imam Syamsuddin Sangkalan. Bahkan Abuya Doktor Muhibbudin Waly juga pernah belajar kepada Abu Imam Syamsuddin Sangkalan.

Setelah selesai masa pengabdian beliau di Darussalam Labuhan Haji, estafet selanjutnya Darussalam dipimpin oleh Abuya Kiyai Muda Jamaluddin Waly. Maka pulanglah Abu Imam Syamsuddin ke Sangkalan untuk kali kedua, dan membenahi kembali dayahnya yang sudah empat tahun beliau tinggalkan, dan beliau merubah nama dayah dari Darul Aman ke Babussalam Sangkalan.

Nama yang terakhir ini yang terus dipakai sampai sekarang. Selesai memimpin Dayah Darussalam, beliau melaksanakan ibadah haji dan memiliki banyak pengalaman menarik ketika disana, dan tidak sempat memperdalam ilmunya di Mekkah.

Pada fase kedua masa kepemimpinan beliau di Dayah Babussalam Sangkalan, maka santri telah mulai terbagi-bagi, karena telah banyak muncul dayah yang lain, selain Bustanul Huda Blangpidie yang ketika itu sudah dipimpin oleh Abuya Hamid Kamal setelah wafatnya Abu Syech Mud.

Juga ada dayah lain yaitu Darul Ulum Diniyah Suak yang dibangun oleh Teungku Syekh Muhammad Yatim al-Khaliy atau Abu Bilal Yatim Suak sepulangnya beliau dari belajar di Mekkah pada Darul Ulum Diniyah Mekkah yang gurunya adalah Syekh Muhammad Yasin Padang temannya Syekh Muda Waly ketika belajar dengan Syekh Ali al-Maliki Pengarang Kitab Hasyiah Asybah wa Nazair.

Setelah perjalanan yang panjang dan kontribusi yang besar bagi masyarakat Sangkalan dan sekitarnya, wafatlah Abu Imam Syamsuddin di tahun 1971.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *