Penulis : Dr Nurkhalis Mukhtar LC MA

Abu Mesjid Sabang merupakan laqab yang diberikan oleh masyarakat setempat kepada ulama yang mereka cintai yaitu Syekh Haji Aidarus atau sering ditulis dengan Abu Sabang Lamno. Nama asli beliau adalah Teungku Haji Aidarus bin Teungku Haji Sulaiman yang merupakan pendiri Dayah Bustanul Aidarusiah Leupee Mesjid Sabang Lamno. Semenjak kecil Teungku Aidarus telah dipersiapkan oleh ayahnya yang juga seorang ulama untuk menjadi ulama dan pengawal agama di wilayahnya. Beliau dilahirkan di Desa Leupee Kecamatan Jaya, Lamno Aceh Jaya sekitar tahun 1871 dan ada yang menyebutkan pada tahun 1885.

Mengawali jejak keilmuannya, Teungku Aidarus belajar Al-Qur’an langsung kepada ayahnya yang juga seorang ulama di wilayah Lamno. Selain belajar kepada ayahnya, Teungku Aidarus juga belajar Kitab-kitab permulaan atau Ibtidaiyah kepada seorang ulama yang bernama Teungku Muhammad Shaleh Lhue. Setelah menyelesaikan belajarnya kepada Teungku Muhammad Shaleh tersebut, karena melihat bakat yang ada pada diri Teungku Aidarus, maka beliau diantarkan untuk belajar langsung kepada salah seorang ulama yang dikenal ahli dalam bidang Fiqih dan Tasauf yaitu Teungku Haji Muhammad Arif yang juga sahabat dan rekan ayahnya.

Teungku Aidarus belajar banyak ilmu dan waktu yang lama kepada Teungku Haji Muhammad Arif sehingga telah mengantarkan Teungku Aidarus muda menjadi seorang yang mendalam ilmunya. Adapun gurunya Teungku Haji Muhammad Arif melihat banyak keutamaan dalam diri Teungku Aidarus muda baik kecerdasan, ketaatan maupun keluhuran budi. Kepada gurunya Teungku Haji Muhammad Arif, Teungku Aidarus mempelajari Kitab-kitab pertengahan atau tsanawiyah seperti Fathul Qarib, Fathul Muin, Kawakib dan kitab-kitab sederajat secara mendalam dan tahqiq. Selain itu, ditanamkan nilai moral dan spritual oleh gurunya yang juga dikenal sebagai ulama sufi. Setelah selesai belajar kepada gurunya Teungku Haji Muhammad Arif, beliau diarahkan oleh ulama tersebut untuk memperdalam kajian keilmuannya kepada salah seorang ulama di Aceh Besar yaitu di Dayah Manyang Bungcala kepada Teungku Chik Ahmad Tanoh Mirah yang merupakan ulama pejuang dan teman Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman. Maka mulailah Teungku Aidarus belajar dengan tekun kepada Teungku Chik Ahmad Tanoh Mirah hingga mengantarkan Teungku Aidarus sebagai seorang ulama yang mendalam ilmunya, sehingga dalam masa tiga tahun setelahnya Teungku Aidarus telah diijazahkan berbagai ilmu keislaman dari gurunya Teungku Chik Ahmad Tanoh Mirah dengan ijazah dan berpesan untuk melanjutkan perjuangan di wilayahnya Lamno. Karena tidak lama setelah itu, gurunya Teungku Chik Ahmad Tanoh Mirah syahid dalam satu pertempuran dengan Belanda.

Setelah menjadi alim yang rasikh ilmunya, Teungku Aidarus berangkat Haji dan belajar di sana dengan beberapa para ulama di antaranya beliau disebutkan mendapat ijazah kitab, doa dan Hizib dalam Kitab Dalail Khairat. Dan pada era Teungku Haji Aidarus di sana terdapat beberapa guru besar dari nusantara yang berpengaruh seperti Syekh Ahmad Khatib Minangkabau Imam dan Mufti dalam Mazhab Syafi’i dan para ulama lainnya.

Tidak lama beliau disana, maka kembalilah Teungku Syekh Aidarus ke kampung halamannya Lamno tepatnya di Desa Leupeu. Dengan ketekunan dan kesabaran Teungku Syekh Aidarus telah membina masyarakat dengan keilmuan, selain itu beliau juga telah mengkader banyak para ulama yang melanjutkan jihad keilmuan dan keulamaan sesudahnya. Di antara ulama yang melanjutkan estafet keilmuan dan keulamaannya adalah Abu Haji Muhammad Darimi bin Nyak Badai yang merupakan keponakan dan anak angkat Teungku Syekh Aidarus. Bahkan setelah wafatnya Syekh Haji Aidarus, Abu Darimi tersebut yang meneruskan kepemimpinan Dayah Mesjid Sabang Lamno yang telah dibangun oleh Syekh Haji Aidarus atau yang dikenal dengan Abu Mesjid Sabang Lamno. Disebutkan bahwa Abu Salim Mahmudi ulama terkemuka Lamno, dan bahkan Abu Adnan Bakongan juga pernah belajar dari Syekh Haji Aidarus.

Setelah pengabdian yang panjang dengan berbagai kontribusi yang besar untuk masyarakat Lamno, maka wafatlah ulama hebat itu di tahun 1953 di desanya Leupeu. Sehingga karena kiprah dan pengabdiannya masyarakat Lamno kemudian lebih mengenalnya dengan sebutan Abu Mesjid Sabang Lamno sebagai penghormatan atas dedikasi sang ulama tersebut. Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *