Charlie Munger, seorang milyuner dan berteman baik dengan Warren Buffet,  berdiri di podium di depan mahasiswa pada saat permulaan kuliah di USC Law School, dan dia berkisah :

Dulu, Max Planck seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman, selepas menerima hadiah nobel fisika  tahun 1919, berkeliling kota Jerman untuk memberi kuliah pada berbagai universitas terkemuka. Dia berkeinginan adanya standarisasi dalam pemberian mata kuliah fisika kuantum, dan  dalam lawatannya yang panjang, dia ditemani oleh supirnya; sebut saja namanya supir Max Planck. 

Supir Max Planck ini sudah berkali-berkali mendengar materi yang sama yang disampaikan Max Planck di depan kaum cerdik pandai di kampus-kampus Jerman. Dia merekam dalam otaknya, dan dihafal bulat-bulat. Dia tahu dan kenal materinya, dan semua disimpan dalam memori: termasuk berbagai jenis pertanyaan. Akumulasi hafalannya mencapai titik di mana dia merasa percaya diri atas pengetahuan yang dihafalnya, dan dengan penuh setia secara berkelanjutan dia terus menemani Max Planck.

Hingga tiba suatu hari, keadaan berbeda.

Supir Max Planck mengajukan usulan. Dia ingin menggantikan Max Planck memberi kuliah, dan sebagai gantinya, Mac Planck yang mengenakan kostum supir. Max Planck sepakat dan mereka berangkat menuju ke universitas seperti agenda-agenda sebelumnya.

Dalam ruang kelas, supir Max Planck maju ke depan, berdiri penuh percaya diri di hadapan audiens, sedangkan Max Planck sendiri duduk di bagian samping ruangan seolah siap-siap menunggu instruksi. Supir Max Planck dengan meniru dan menghafal seluruh materi menjelaskan semua materi. Presentasinya berjalan lancar hingga  pada akhir pemaparan– sebagaimana biasa dalam presentasi, diberikan kesempatan kepada audiens untuk bertanya. Apes, pertanyaan seorang profesor dari universitas yang dikunjungi tidak pernah didengarkan sebelumnya oleh supir Max Planck. Dia tidak tahu jawabannya, memorinya tidak pernah memiliki jenis pertanyaan ini. Dia mulai berkeringat. 

Dalam kepanikan, dia mendapat ide. Seraya menunjuk ke arah Mac Planck yang duduk di barisan depan, dia berkata, “Kalau hanya seperti ini pertanyaannya, supir saya bisa menjawabnya.”

Tentu saja, pertanyaan ini mudah saja bagi Max Planck.

Apa yang bisa kamu pelajari dari kisah yang dibawa oleh Charlie Munger ini adalah di dunia ini terdapat dua buah pengetahuan (knowledge). Pengetahuan yang diperoleh dengan sebenar-sebenarnya, dengan susah payah, dikelola dalam waktu lama, butuh kedalaman, sebagaimana yang dimiliki oleh Max Planck. Di sisi lain ada pengetahuan yang diperoleh dengan hanya menghafal saja, dangkal, tidak ada kepahaman di dalamnya, membeo, sebagaimana yang ditunjukkan oleh supir Max Planck. Sekilas kedua jenis pengetahuan ini sama. Persis.

Kamu bisa terkecoh. dalam kondisi ini, di mana keduanya mirip di permukaan, siapa yang sebenarnya mengetahui kedalam pengetahuan di antara keduanya? Pastilah, Max Planck yang tahu kedalaman ilmu si supir.

Jika kamu bertemu orang sekilas, dan  terpikat dengan kepiawaiannya, saatnya  kamu  mengecek  pengetahuannya dengan cara sebagaimana yang dilakukan  oleh profesor universitas kunjungan, yaitu “bertanya mengapa”. Pertanyaan “mengapa” mengantarkan kepada kedalaman pengetahuan. Orang tidak bisa menjelaskan sesuatu di atas ilmunya. Kalau dia hanya mengetahui perkalian hingga 5 x 10, maka pertanyaan kamu mengenai akar kuadrat menjadi malapetaka.

Demikian, terlihat betapa berbahayanya kedangkalan ilmu. 

Bagaimana kamu tahu seberapa dalam pengetahuanmu ?

Warren Buffet, investor terkenal, pernah mengatakan bahwa penguasaan orang terhadap suatu hal seperti sebuah lingkaran (circle of competence). Perasaan manusia menyatakan lingkaran pengetahuannya cenderung lebih besar dari penguasaan  sebenarnya terhadap pengetahuan tersebut. Ibaratnya, lingkaran penguasaan  sebesar uang logam seribu maka perasaannya merasa seolah-olah lingkaran itu sebesar piring. Lebih lanjut, Warren menjelaskan bahwa sebesar apapun lingkaran penguasaan seharusnya tidak menjadi masalah selama mengetahui batasannya (boundaries). Masalah datang ketika orang berbicara di luar batasan tersebut: sesat dan menyesatkan.

Salah satu cara yang bisa kamu lakukan adalah mulailah menguji pengetahuan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Penjelasan pertanyaan yang datang dari berbagai perspektif membuat kesadaran peka untuk mendeteksi lubang-lubang kesenjangan dalam pengetahuanmu. 

Setelah kamu mengetahui kesenjangan-kesenjangan tersebut, saatnya kembali belajar lebih terfokus, mengajukan  lebih banyak lagi pertanyaan hingga timbul lubang-lubang baru  untuk ditutupi lagi. Demikian seterusnya hingga circle of competence membesar dengan sendirinya. 

Apakah ada metode belajar efektif?

Ada, yang dikenal dengan Teknik Feynman (The Feynman Technique)- Richard Feynman (1918-1988) adalah ahli fisika yang juga peraih hadiah nobel. Teknik Feynman ini diyakini dapat digunakan dalam berbagai disiplin ilmu, jadi materi apapun yang ingin kamu kuasai dapat kamu capai melalui penggunaan teknik ini secara berurutan. Terdapat 3 langkah utama dan satu langkah yang bersifat opsional (tambahan) yang dapat kamu lakukan. 

Langkah pertama adalah tentukan konsep yang ingin kamu pelajari, lalu terangkan konsep itu atau tuliskan seperti kamu sedang mengajarkan kepada anak kecil.

Bahasa sederhana untuk menjelaskan konsep yang rumit menunjukkan pemahaman dan kedalaman pengetahuan. Hindari menggunakan jargon atau istilah yang sulit dimengerti oleh lawan bicara. Semuanya berjalan gamblang: terang benderang, tidak ada selubung. Sekali lagi, langkah awal ini fokus pada tema yang akan diajarkan dan menyampaikan dengan bahasa sederhana seolah-olah kamu sedang berdialog dengan anak kecil.

Tahap ini merupakan tahap menguji pemahaman kamu sejauh mana ilmu itu benar-benar dikuasai. Pada awalnya mungkin terlihat begitu lancar, namun perhatikan sampai di titik mana materi yang kamu mulai gagap menyampaikannya. Pada point itulah  kesenjangan (gap) karena ketidaktahuan yang mesti kamu benahi. Sekarang, saatnya menuju tahap kedua. 

Pada langkah kedua, kamu melakukan review. Kesenjangan yang ditemui pada tahap pertama dapat dibenahi dengan kembali membaca buku referensi. Kamu mencari jawaban atas detail dari subjek yang tidak jelas pada langkah pertama. Adanya kesenjangan ketidaktahuan  ini menunjukkan batasan lingkaran pemahaman kamu terhadap subjek yang dipelajari. Menutupi kesenjangan dengan membaca secara detail, lingkaran pemahamanmu (circle of competence) akan melebar dan kamu telah mempelajari sesuatu yang berharga. Review ini tahap yang sangat penting karena di sini kamu dapat melakukan sesuatu tindakan untuk menambah ilmu sehingga menjadi dalam. 

Berikutnya langkah ketiga adalah menyusun ulang materi yang telah kamu kuasai dan kemudian kamu membuatnya menjadi lebih sederhana dalam penyampaian. Kemampuan storytelling untuk menjelaskan ide dengan narasi terstruktur dan sederhana menjadi hal penting. Semua orang senang dengan cerita, susun cerita dengan ringan tapi padat isi. Tentu saja ini tidak gampang. Kesederhanaan ini akan menjadi alat yang mudah untuk  masuk ke dalam alam berpikir setiap orang.

Sebenarnya setelah melakukan ketiga langkah ini, pekerjaanmu selesai. Namun, untuk lebih menyempurnakan, kamu dapat melanjutkan pada langkah keempat yang bersifat opsional yaitu mengirimkan materi tersebut kepada kepada orang lain untuk dibaca, bahkan kalau memungkinkan, dikirim kepada seorang anak kecil. Tahap terakhir ini adalah sebagai pembuktian. Apakah orang lain mengerti atau tidak setelah membacanya akan menjadi feedback yang sangat berharga. Apapun hasilnya, kamu harus terus berlatih.

Jadi, memahami perbedaan ilmu yang sebenarnya ala Max Planck dengan ilmu imitasi ala supir Max Planck adalah hal penting. Keadaan seperti supir Max Planck masih mungkin diperbaiki bila kamu mengetahui batasan dari lingkaran ilmumu (circle of competence). Batasan ini bisa diperlebar dengan menerapkan Teknik Feynman.

Penulis : Mohammad Haikal, ST., MIFP

Editor : Riki Asbi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *