Tahun 2003 saat saya pertama ke Australia, dalam diskusi kecil -bersama teman-teman dari negara Australia, Korea Selatan, China, Jepang, Belanda- kita berbicara mengenai keadaan negara masing-masing. Hasilnya sepakat, Indonesia orangnya ramah: mudah berteman. Atau, mungkin juga banyak ngomong. Kalau dipikir-pikir, memang ada kecenderungan orang Indonesia suka menghabiskan waktu ketika bercakap-cakap. Bahkan, kehidupan street life juga terasa sangat berwarna karena orang Indonesia dapat menjadikan kehidupan di jalan itu meriah dengan tegur sapa, ngobrol, dan banyak hal lain. Orang senang berbagi cerita. Akhirnya, hal ini mengarah kepada asumsi bahwa orang Indonesia menganggap waktu adalah komoditas tak terbatas. Kita tidak menganut konsep waktu adalah uang sebagaimana orang belahan dunia lain menjadikan ini pedoman. Tidak juga kita mengikuti waktu adalah pedang layaknya bangsa Arab punya pepatah.

Ternyata pada lain kesempatan, bukan saja kita tidak ketat dalam masalah waktu, kita juga agak santai (baca:tidak terlalu detail) dalam melakukan persiapan atau perencanaan: sesuatu mengalir saja. Tahun 2014 aku mengikuti workshop manajemen di Jakarta. Dalam sebuah sesi, pembicaranya bercerita mengenai bagaimana kita bisa begitu santai, “Sebenarnya kita dimanjakan oleh alam yang begitu nyaman”, kata pemateri. “Kapan saja sesuatu bisa dilakukan”. Lalu, dia bercerita pengalamannya di luar negeri.

Dia pergi keluar negeri pada musim dingin, salju memenuhi jalan. Dia menginap di tempat temannya. Karena kunci rumah hanya ada satu, dan dia yang keluar terakhir, maka mereka sepakat bahwa dia yang memegang kunci dengan syarat harus pulang tepat jam sekian karena temannya pada saat itu juga tiba di rumah. Tidak boleh telat. Kenyatannya, dia keasyikan. Dia pulang telat 30 menit, temannya hampir beku menunggu dia.
Keterlambatan bisa berakibat fatal. makanya, perencanaan dan ketepatan waktu penting. Kalau dalam musim dingin kita lupa beli saos, saat kembali ke warung tidak bisa dengan baju kaos dan sandal jepit, tetap harus pakaian lengkap dan berat. Itu harga untuk membeli saos yang terlupa. Keadaan memaksa seperti ini membuat mereka harus mencatat agar tidak alpa. Sekali pergi, harus tuntas.

Jadi sebenarnya apapun alasannya, konsep waktu dan perencanaan seharusnya menjadi isu buat kita. Waktu terbatas, dan masih banyak hal yang harus dikerjakan. Seumpama waktu adalah air, maka bagi kita, waktu seperti sungai yang tak kering tidak lagi relevan. Menghambur-hamburkan waktu sebenarnya menghabiskan sumber daya.

Bagaimana mengatasi hal tersebut?
Waktu adalah basis dari sebuah manajemen. Semua pekerjaan dituntaskan dalam variabel waktu. Sebelum membahas skejul pekerjaan, mari kita lihat dulu bagaimana sebaikanya prioritas sebuah aktivitas.Dalam Bab 3 buku The 7 Habits of highly effective people, Stephen R. Covey menjelaskan tentang personal management: manajemen diri. Ini bahasan yang menarik dan bagus karena disertai instrumen yang mudah diterapkan. Instrumen pertama yang dikenalkan adalah tentang sifat dsarin pekerjaan yang kita lakukan. Terdapat empat kotak yang diklasifikasikan dengan important (penting), not important (tidak penting), urgent (segera), dan not urgent (tidak segera).
Seluruh kotak tersebut disini dengan pasangan sifat sebagaimana tabel berikut:

Singkat cerita, fokus terbaik adalah pada bagian atas, kotak important dengan pasangan  segera dan  tidak segera (not urgent). Menariknya, pusat pengembangan diri ada pada kotak not urgent tapi important. Karena sifatnya tidak segera, ia sering diabaikan. Ini seperti kontra-intuisi dengan sebagian anggapan kita bahwa important dan urgent adalah paking utamaà. Iya, karena harus dituntaskan secepat mungkin. Tapi skill yang kuat yang harus ditumbuhkan perlahan hingga mencapai titik tajamnya, maka itu terletak di kotak important not urhent. Karena kebutuhannya tidak saat ini (tidak mendesak), maka konsentrasi untuk memenuhi atau mencapai skill pada bagian ini sering terabaikan, ditimbun oleh hal-hal urgent lain baik yang important maupun not important. Ibarat, petinju melatih pukulan setiap hati untuk pertandingan setahun kemudian adalah important but not urgent.

Memahami konsep kuadran important tapi tidak urgent Stephen Covey ini bisa menjelaskan sebuah pertanyaan yang sebenarnya telah dia tanyakan pada awal bab bukunya.

“Bila ada sebuah skill yang bisa kamu kerjakan dan bisa merubah hidupmu, apa yang akan kamu lakukan?
Skill ini ada pada kuadran kedua. Kamu coba fokusnpada skill kategori ini.

Bagaimana caranya skill yang telah ditentukan dapat dikuasai?

Pertanyaan ini terkait dengan how to. Bagimana caranya. Tentu saja, kamu memerlukan usaha keras untuk dapat menyerap dan memahami skill baru. Proses ini membutuhkan investasi waktu, dan kadang juga, uang. 
Dalam proses mendapatkannya, kamu harus mengulang sebuah skill baru sehingga skill tersebut terlihat alamiah. Contoh, kamu ingin sekali belajar menulis untuk memperkuat personal brandingmu dalam masalah keuangan, khususnya personal finance. Kamu bisa mencoba sebuah cara yang dikenalkan dengan Escape and Arrival Framework.Dengan menggunakan E/A Framework, maka proses mendapatkan skill  sesuai dengan metode ini akan terlihat seperti ini:

Ruang kosong di antara dua titik– escape from hingga arrive at— adalah langkah-langkah yang harus kamu definisikan. Hal-hal apa saja yang menjadi tahapan dalam proses penguasaan skill tersebut. Kadang dibutuhkan referensi atau bertanya kepada para ahli agar kamu mengetahuinya. Dengan kata lain, kamu perlu melakukan riset kecil.

Setelah melakukan riset, sebagai contoh, kamu mendapatkan data sebahgai berikut:

Hal berikutnya yang dapat kamu lakukan adalah menguasai setiap langkah yang telah kamu definisikan. kamu pecahkan menjadi bagian-bagian yang lebih spesifik untuk setiap langkahnya. Buat menjadi lebih mudah dikuasai. Dalam menguasai langkah 1 -menemukan ide tulisan- kamu dapat mencari bahan melalui google materi apa saja yang menarik untuk dibahas. Kamu dapat mengunjungi berbagai blog yang menyajikan muatan yang mendekati dengan idemu. Lihata bagaimana orang lain mengulas sebuah ide dengan perspektif menarik. semakin sering kamu melakukan eksplorasi, semakin peka kamu melihat hal-hal yang indah dalam tumpukkan kata-kata.
Demikian juga dengan langkah 2 dan 3. Kamu lakukan apa saja agar langkah-langkah ini bisa berubah menjadi tahapan yang mudah untuk dibahas dan dikemas. Tingkat kesulitan setiap langkah akan bervariasi. Dengan memahami pola perbedaannya akan memberikan kamu kesempatan untuk terlebih dahulu melakukan antisipasi dengan membuat jadwal sesuai porsi kesulitan. Langkah yang lebih rumit membutuhkan waktu yang lebih panjang karena kamu harus mencari jawaban melalui riset yang lebih lama atau dalam. Apapun tahapan yang telah kamu pilih, kamu harus konsiste dalam bekerja. Kedisiplinan adalah tulang punggung untuk keberhasilan pencapaianmu. 

Bila proses penguasaan ini bisa kita sebut sebagai proyek, maka ini adalah proyek ini bisa mengangkat dirimu lebih tinggi. Proyek-proyek serupa beragam jenisnya, tergantung skill apa yang ingin kamu dapatkan. Proyek yang rumit sekalipun, bila kamu dekati dengan E/A Framework melalui penentuan langkah-langkah yang lebih detil, maka proses tersebut akan terlihat mudah dikelola. Sesuatu yang hanya membutuhkan kedisiplinan dalam mencapainya. Tentu ini tidak sulit bagimu.

Penulis : Mohammad Haikal, ST., MIFP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *