Oleh: Dr. Nurkhalis Mukhtar, Lc., MA
Editor: Riki Asbi

satu topik yang menarik untuk dikaji dalam konteks kekinian adalah mengenai kotribusi umat Islam terhadap peradaban dunia. Khususnya pada era sekarang, mengingat berbagai macam tuduhan dan stigma negativ yang sengaja diciptakan untuk memperburuk citra Islam dan umat Islam. Mengkaji kontribusi umat Islam terhadap dunia secara menyeluruh merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan, jika tidak disebut sebagai sebuah kemustahilan. Hal Ini disebabkan karena kontribusi umat Islam terhadap berbagai lapangan kehidupan umat manusia dalam rentang waktu berabad-abad yang telah dilalui umat Islam sangat panjang. Sejarah juga mencatat begitu banyak ulama dan cendekiawan muslim tempo dulu yang telah berhasil menemukan dan meramu berbagai teori ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dunia.

Dalam mengkaji peradaban, para ahli memiliki sudut pandang yang beragam dalam memaknai peradaban, tergantung sisi pandang masing-masing. Ada yang memaknai peradaban dengan kemajuan dalam bidang materi belaka, tanpa mengindahkan aspek moralitas kemanusiaan sama sekali. Ada pula yang memaknai peradaban dengan masyarakat yang tinggal di tempat yang maju, di sisi lain Ada juga yang memaknai peradaban dengan kemampuan manusia menggunakan benda-benda elektronik yang canggih, dan ada pula yang memaknai peradaban dengan bangunan-bangunan yang tinggi sebagai pencakar langit. Namun disayangkan peradaban dalam persepsi di atas belum mampu menganggambarkan hakekat peradaban sesungguhnya.

Masih lekat dalam ingatan kita bahwa bangsa-bangsa yang begitu maju dalam berbagai lapangan elektronik yang canggih, bahkan mereka telah mampu menciptakan robot-robot yang menggantikan pekerjaan manusia, namun pada saat yang sama di Negara tersebut ratusan orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Di Negara lain lagi yang dikenal dengan Negara yang menjunjung nilai kebebasan, dimana Negara tersebut seks bebas, pelacuran, perzinahan merupakan hal yang wajar dan dianggap biasa, sehingga seorang anak yang dilahirkan barangkali tidak mengetahui siapa ayah kandungnya. Adapula Negara yang begitu senang untuk mengkampanyekan seruan Hak Azasi Manusia, pada saat yang sama mereka merupakan negara yang paling banyak melakukan pembunuhan terhadap ribuan orang yang tidak berdosa, padahal merekalah pelanggar Hak Azasi sesungguhnya. Adapula Negara yang berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit dan memiliki berbagai fasilitas kenyamanan hidup yang serba mewah, namun pada saat yang sama mereka takut mati dan menjadi manusia pengecut.

Beberapa contoh kasus di atas merupakan indikasi yang membuktikan bahwa kemajuan yang dimiliki oleh umat manusia pada era modern dewasa ini tidak bisa disebut dengan peradaban yang sesungguhnya. Kita memang tidak bisa menutup mana terhadap kemajuan di berbagai Negara Eropa dan Barat, namun nampak bahwa penawaran peradaban yang mereka miliki ternyata tidak mampu membawa perubahan yang signifikan terhadap kemakmuran dunia.

Inti Peradaban Islam

Para ilmuan Islam dari berbagai generasi, telah melakukan penelitian terhadap sejarah panjang umat Islam, dan menyimpulkan bahwa inti peradaban Islam itu ada dalam tiga kriteria utama yang pernah diajarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw. Tiga kriteria itu adalah: membangun hubungan baik dengan Allah (hablumminallah/vertical), mampu membangun hubungan baik dengan manusia (hablumminannas/horizontal), dan adanya hubungan baik dengan alam sekitar yang terdiri dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Peradaban yang sempurna ialah ketika ketiga rangkaian ini menyatu dan terejawantahkan dalam kehidupan nyata umat manusia.

Tiga kriteria di atas pernah dipraktekkan langsung oleh Rasulullah bersama para sahabatnya dan umat Islam pada era kegemilangan mereka. Sehingga keberadaan Rasulullah mampu menjadi pelopor kasih sayang dan rahmat bagi semesta “rahmatan lil ‘alamin”. Kita meyakini bahwa peradaban Madinah atau madani dalam Istilah sekarang yang pernah ada pada masa Rasulullah merupakan perwujudan dari peradaban sesungguhnya. Ketiga kriteria tersebut menjadi ukuran untuk menentukan kesuksesan sebuah peradaban. Jika barometer itu digunakan, maka akan jelas sisi kemajuan dan keterbelakangan dari sebuah masyarakat modern dewasa ini. Tentunya dengan tidak memungkiri bahwa kemajuan yang dimiliki oleh Negara-negara maju begitu pesat, namun disayangkan kemajuan tersebut tanpa format yang jelas.

Kriteria peradaban Islam berawal ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah langkah awal yang beliau lakukan adalah membangun mesjid. Di dalam mesjid Rasulullah dan para sahabat membangun hablumminallah dan hablumminannas. Kriteria pertama dari peradaban Islam adalah adanya hubungan baik manusia dengan Allah swt sebagai pencipta alam semesta. Dan sebagai makhluk ciptaan Allah, sepantasnya manusia menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini tidaklah sia-sia. Ada tugas mulia yang diembankan di atas pundaknya yaitu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Rasulullah saw sebagai figur teladan umat manusia memberi contoh betapa hatinya senantiasa tersambung dengan Allah, sehingga shalat sebagai sebuah bentuk pertemuan antara seorang hamba dan Tuhannya bagi Rasulullah tidak hanya sebatas kewajiaban, akan tetapi menjadi kebutuhan jasmani dan rohani.

Kriteria kedua adanya hubungan yang harmonis antar sesama manusia. Islam mengajarkan kepada umatnya agar menjaga ukhuwwah Islamiyah, tidak berpecah belah, saling merendahkan, menghina, mengejek, menfitnah, dan berbagai keburukan lainnya. Islam menanamkan nilai bahwa kemuliaan seseorang bukan karena wajah, harta, jabatan, tapi kemuliaan seseorang diukur dengan ketakwaannya di sisi Allah. Masih terngiang di benak kita bahwa Rasulullah begitu menyayangi sahabatnya Bilal bin Rabah, seorang yang dahulunya budak kemudian dimerdekakan oleh Abubakar as-Shiddiq yang pada akhirnya menjadi muazzin resmi pada masa Rasulullah.

Kriteria ketiga adalah kemampuan membangun hubungan baik dengan alam sekitar yang terdiri dari hewan dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk hidup lainnya. Rasulullah mengajarkan kepada pengikutnya untuk menyayangi hewan. Dalam riwayat yang sahih dijelaskan ada seorang pelaku dosa besar yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan. Dalam kasus yang lain, seorang wanita yang banyak ibadahnya, harus masuk neraka karena dengan sengaja menganiaya kucing sehingga mati. Pernah juga seorang sahabat datang mengadu kepada Rasulullah bahwa unta yang dimilikinya tidak mematuhi sang pemilik. Rasulullah datang ke kandang unta untuk melihat unta yang disebut liar. Ketika Rasulullah datang, unta tersebut mencium kaki Rasulullah dengan linangan air mata. Rasul dengan tegas berpesan kepada pemilik unta agar menjaga unta dengan baik dan tidak membebankan sesuatu yang diluar kemampuan unta tersebut.

Islam agama yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keluhuran budi. Tidak hanya perintah berbuat baik kepada hewan saja, namun keharusan berbuat baik juga berlaku bagi makhluk hidup lainnya seperti tumbuh-tumbuhan. Di antara akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah dalam kondisi peperangan adalah tidak diperbolehkan memotong pepohonan secara sembarangan. Dalam sebuah riwayat yang sahih disebutkan disebutkan di awal-awal Rasulullah berkhutbah beliau berdiri di atas sepokok pohon, kemudian salah seorang sahabat beliau berinisiatif membuat tempat khusus untuk beliau berceramah. Saat Rasulullah menyampaikan nasehatnya kepada para sahabat, sayup-sayup terdengar suara seperti suara tangisan sedih dan pilu. Suara tersebut makin lama makin jelas kedengarannya. Rupanya pohon yang biasa di duduki Rasulullah ketika berceramah merasa sedih karena Rasulullah telah berpindah ke tempat khusus yang diperuntukkan untuk beliau ceramah. Rasulullah pun segera memeluk kayu yang menangis tersebut dan menawarkan agar dibangkitkan dihari kiamat bersamanya.

Berbagai kenyataan di atas tentunya menambah keyakian bahwa hanya peradaban Islam saja yang mampu mewujudkan peradaban sesungguhnya. Peradaban Islam memiliki akar yang menghujam ke dalam bumi dan pucuknya menembus langit. Hanya peradaban Islam yang mampu mengayomi umat manusia ke jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan Bangsa Arab yang dulunya tandus, penduduknya hidup berpindah-pindah, dan secara logika sehat tidak akan mampu memimpin peradaban dunia ketika itu, namun bukankah para sahabat Nabi merupakan pelopor peradaban umat manusia?, bukankah nama-nama para sahabat Nabi begitu dekat dan begitu sering kita sebut-sebut?. Jawabannya adalah ungkapan yang pernah diutarakan oleh seorang sahabat senior Umar bin Khattab dengan ucapannya “Kami dulu adalah bangsa yang terhina, kemudian Allah Swt memuliakan kami dengan Islam sehingga kami mulia, maka betapapun kami mencari kemuliaan pada selain agama Islam, maka kami akan terhina”. Intinya jika umat Islam ingin bangkit dari berbagai keterpurukan yeng sedang mereka hadapi hanya dengan kembali kepada ajaran Islam secara sungguh-sungguh.


Sikap yang semestinya

Setelah memaparkan pandangan mengenai peradaban agung umat Islam pada masa lalu, tentu ada sebuah pertanyaan yang muncul dibenak pembaca semua adalah “Apa yang harus dilakukan umat Islam agar mereka bangkit dari berbagai keterpurukan yang sekarang mereka hadapi?”. Jawaban dari pertanyan tersebut merupakan langkah awal untuk kembali sadar, ternyata umat Islam pada masa lalu telah mampu membangun peradaban dunia dan menghasilkan berbagai kontribusi bagi umat manusia. Hal yang mendasar yang perlu diingat bahwa umat Islam akan bisa bangkit kembali untuk memimpin peradaban dunia bila mereka kembali ke ajaran mereka. Ketika umat Islam jauh dari ajarannya, bermakn hidayah akan jauh, bahkan mereka akan tersesat dalam kegelapan. Di antara poin-poin yang mesti dilakukan umat Islam adalah: kembali mengkaji Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar, Mau mengkaji sejarah Masa lalu umat Islam, dan umat Islam menjadi dai professional ke seluruh alam.

Poin pertama yang penting dilakukan adalah umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Semboyan kembali kepada kedua sumber tersebut bukan tanpa alasan yang mendasar. Rasulullah saw menyatakan bahwa beliau telah meninggalkan bagi umatnya dua panduan utama yaitu Al-Qur’an dan Sunnah agar menjadi panduan hidup bagi kaum muslimin. Kesuksesan para sahabat Rasulullah dalam meniti kehidupan pada masa lalu ialah karena mereka mau mengkaji Al-Qur’an dan menyingkap rahasia-rahasianya, sehingga isi Al-Qur’an mereka usahakan semaksimal mungkin diterapkan dalam kehidupan. Kesuksesan yang diraih oleh para sahabat dalam berbagai lini kehidupan mereka tentu tidak pernah lepas dari naungan Al-Qur’an dan Sunnah.

Poin yang pertama ini bukanlah argumentasi yang tidak beralasan, sungguh kesuksesan para sahabat dan para pendahulu kita bukan hanya keunggulan di mesjid saja, tetapi kesuksesan dalam akidah, pemikiran, sastra, ilmu pengetahuan, akhalak dan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, dan seluruh kesuksesan itu kuncinya ketika umat Islam berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Maka sepatutnya bagi umat Islam untuk kembali kepada kegemilangan mereka tanpa keraguan. Sebagaimana Firman Allah Swt dalam surat al-Ahzab ayat 36 “dan tidaklah bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sebuah putusan bahwa mereka berhak memilih dari urusan mereka, maka barangsiapa yang menyelisihi Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia berada dalam kesesatan yang nyata”.

Karena ketika umat Islam kembali kepada sumber ajaran agama, maka Allah swt akan menjamin kebahagiaan dan kesuksesan bagi mereka di dunia maupun di akhirat sebagaimana firman Allah Swt dalam surat an-Nahlu ayat 97 “Barangsiapa yang beramal shalih dari laki-laki maupun perempuan dan dia adalah mukmin, maka sungguh kami persiapkan untuknya kehidupan yang baik di dunia, dan sungguh akan kami balas mereka dengan lipatan yang berlipat ganda lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Poin kedua yang harus dilakukan umat Islam ialah bersungguh-sungguh mengkaji sejarah masa lalu umat Islam, agar bisa mengambil pelajaran berharga dari keteladanan para pendahulu mereka yang layak untuk dicontoh. Umat Islam butuh waktu bahkan memberi perhatian khusus untuk membaca sejarah masa lalu mereka, dengan mempelajari berbagai kegemilangan yang telah dipersembahkan oleh generasi sebelum mereka, kita dituntut untuk menyelami ide-ide cemerlang dan brilian dari para ulama dan cendekiawan Islam pada masa lalu baik dalam politik, pemikiran, ekonomi, kehakiman, ilmu pengetahuan, seni dan keindahan dan lain-lain. Kita mesti belajar dari mereka dan mempelajari bagaimana mereka memahami agama yang mulia ini sehingga mereka bisa sukses dan dikenang di dunia ini. Bukankah Al-Qur’an yang menjadi referensi utama umat Islam hampir dua pertiga isinya mengenai kisah-kisah dan sejarah masa lalu umat manusia?.

Poin terakhir yang mesti dilakukan oleh umat Islam setelah memahami sumber ajaran agama dengan baik serta menyeluruh, dan memahami bahwa mereka memiliki para pendahulu yang gemilang, dengan sejarah yang layak dicatat tinta emas peradaban dunia, maka menjadi kewajiban bagi mereka untuk menghadirkan dan menyuguhkan permata indah peradaban Islam tersebut kepada dunia, karena barangkali banyak dari penduduk dunia ini yang belum memahami sejarah umat Islam dan kisah kejayaan umat Islam sebagaimana mestinya, bahkan barangkali banyak cerita dan sejarah umat Islam yang sampai kepada mereka yang telah dihilangkan atau terdistorsi karena ketidak pahaman mereka terhadap sumber yang otentik dan terpecaya. Banyak orang yang membenci umat Islam karena ketidaktahuan mereka, karena manusia adalah musuh dari ketidaktahuan. Bukankan umat Islam diperintahkan untuk menyeru kepada kebaikan dan menjadi rahmat bagi semesta alam? dan bukankah ucapan yang paling baik dari seseorang adalah mendakwahkan manusia ke jalan Allah?. Sungguh banyak di antara kita yang belum membaca sejarah emas umat Islam pada era kegemilangan mereka, walaupun hanya satu lembar. Seandainya ada semangat mengkaji pada diri umat Islam, mungkin akan ada catatan keemasan baru bagi umat Islam. Karena umat Islam harus siap menjadi pelopor dari setiap kebaikan. Sebagaimana Islam adalah agama yang memberi solusi, dan Rasulullah adalah figur pembawa solusi, maka sepatutnya umat Islam adalah agama pembawa pencerahan terhadap umat manusia dengan membawa cahaya peradaban untuk dunia, menjadi rahmat bagi semesta alam, sumber inspiratif, senantiasa membawa perubahan dan kontribusi terhadap kemanusiaan, membimbing manusia mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *