Sejak disahkan pada tahun 2015, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) terus menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia, tak terkecuali dengan Indonesia. Disahkannya SDGs ini tidak terlepas dari sejarah Millenium Development Goals (MDGs) yang secara resmi berakhir pada Desember 2015 silam. MDGs yang digagas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama dengan 147 negara anggotanya ini telah banyak memberi pengaruh pada arah kebijakan pembangunan di berbagai negara. Namun seiring dengan perjalanan pemenuhan target, masing-masing negara menghadapi tantangan yang berbeda-beda, ada yang berhasil dan ada pula yang terseok-seok.

Program MDGs dan segala kekurangannya tersebut akhirnya secara resmi berakhir dalam Sidang Umum PBB di New York yang kemudian pada 2 Agustus 2015 PBB bersama dengan 193 negara anggotanya secara resmi mengadopsi dokumen yang berjudul Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan Sustainable Development Summit yang berlangsung pada 25-27 September 2015 dan berhasil mengesahkan dokumen yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs) yang berisikan 17 Tujuan Pembangunan dengan 169 sasaran dan tujuan mulia berupa mengakhiri kemiskinan, kelaparan, mencapai kesetaraan gender, kelayakan sanitasi, pendidikan yang berkualitas, mengatasi perubahan iklim, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tahun 2030. Untuk memastikan tujuan yang telah disepakati bersama ini dapat tercapai dengan baik, perlu adanya komitmen, kerja sama, dan kerja keras dari segala pihak, baik dari instansi pemerintah, sektor swasta, akademisi, praktisi, dan peran serta mahasiswa.

Indonesia merupakan salah satu dari 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berkomitmen dalam pengimplementasian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Indonesia turut menyepakati Tujuan Pembangunan Global ini atas dasar pertimbangan bahwa tujuan dan sasaran SDGs selaras dengan tujuan dan pembangunan Indonesia, yakni menyejahterakan masyarakat Indonesia maupun global. Indonesia bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menyatakan bahwa wujud komitmen Indonesia terhadap Sustainable Development Goals ini sudah dimulai jauh sebelum disahkannya SDGs pada September 2015, yaitu dengan adanya sinergi 94 target SDGs di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Komitmen ini rencananya akan dilanjutkan dan lebih ditingkatkan dengan mengintegrasikan target-target lain ke dalam dokumen RPJMN 2020-2024. Namun demikian, mengingat target-target cakupan SDGs yang sangat komperehensif, Bappenas berharap adanya kemitraan yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, praktisi, dan lembaga swadaya masyarakat agar dapat tercapai target-target pembangunan nasional ini.

Selain pemerintah yang menjadi aktor utama dalam pencapaian tujuan-tujuan ini, tidak dipungkiri bahwa peran serta akademisi tak kalah pentingnya untuk menyukseskan pencapaian SDGs. Perguruan tinggi dan lembaga kajian sangat diperlukan keberadaannya untuk menciptakan generasi muda sesuai dengan Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Walaupun tidak disebutkan secara langsung peranan mahasiswa dalam penyuksesan SDGs ini, mahasiswa merupakan modal sosial yang sangat diandalkan agar dapat mewujudkan percepatan tujuan SDGs di Indonesia. Mahasiswa diharuskan mampu menjadi pelaku terpenting dalam perwujudan SDGs bagi lingkungan sekitarnya. Langkah-langkah tersebut dapat dimulai dengan memberikan pemahaman mengenai SDGs kepada orang-orang awam. Dimulai dari lingkungan terkecil seperti kampus maupun organisasi kepemudaan di lingkungan rumah, dan lain-lain. Semangat yang dimiliki mahasiswa dapat menjadi langkah awal yang baik untuk memulai menyosialisasikan dan membangun kesadaran di lingkungan terdekatnya hingga pada akhirnya dapat mempengaruhi lingkungan yang lebih besar. Semakin banyak orang mengerti dan paham tujuan SDGs, semakin mudah tujuan SDGs itu dapat terlaksana. Namun, sebelum melakukan hal-hal tersebut perlu diperhatikan bahwa untuk mencapai pembangunan nasional perlu pembangunan dari dalam diri masing-masing individu.

Kemudian peran mahasiswa sebagai agent of change atau agen perubahan bagi masyarakat sangatlah diperlukan dalam hal ini, mahasiswa berperan sebagai pengawas atau sosial kontrol pembangunan dan penilai keberhasilan dari suatu pembangunan yang telah direalisasikan oleh pemerintah. Selain itu, mahasiswa juga harus melakukan pengabdian kepada masyarakat setempat dengan menciptakan inovasi-inovasi baru guna membantu pemerintah dalam mewujudkan pembangunan ke arah yang lebih baik lagi.

Sustainable Development Goals (SDGs) ini berlaku secara universal, tidak hanya untuk negara maju dan negara berkembang saja, tetapi juga negara-negara berpenghasilan rendah. Sebagai sebuah kesepakatan global, 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi ini juga menjadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi Lembaga Swadaya Masyarakat, swasta, perguruan tinggi, bahkan mahasiswa. Karena kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh generasi-generasi mudanya.

Penulis : Riki Asbi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *