Oleh: Dr. Nurkhalis Mukhtar, Lc., MA

Suatu ketika Rasulullah Saw sedang duduk bersama para sahabatnya, datang ke majelis beliau seorang Arab Badui seraya bertanya kepada Rasulullah Saw tentang kapan terjadinya kiamat. Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah Saw memberikan jawaban yang menjadi alasan kenapa kita mesti mencintai dan mahabbah kepada Rasulullah Saw. Rasul bertanya kepada sahabat beliau yang berasal dari pedesaan itu mengenai bekal apa yang telah dipersiapkan untuk hari kiamat kelak.

Demi mendengar jawaban yang disertai pertanyaan penting dari Rasulullah, maka sahabat Arab Badui tersebut menyatakan bahwa tidak banyak ibadah sunnah yang dimilikinya, apabila dibandingkan dengan sahabat Rasulullah yang lain seperti Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib serta sahabat Rasul lainnya. Tetapi sahabat pedesaan melanjutkan bahwa hatinya penuh kecintaan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Serta merta Rasulullah Saw menimpalinya dengan sabda beliau “seseorang bersama dengan siapa yang ia cintai”.

Mahabbah atau cinta kepada Rasulullah Saw, merupakan bekal yang sangat utama di akhirat kelak. Karena Allah SWT menyebutkan dalam Firman-Nya bahwa kecintaan kepada Allah Swt baru terwujud apabila seseorang ittiba’/mengikuti ajaran Rasul-Nya. Bahkan Imam al-Ghazali dalam Mukhtashar Ihya’ menjelaskan betapa kedudukan mahabbah kepada Allah Swt dan Rasul-Nya merupakan puncak dari keutamaan sebuah ibadah. Sehingga maulid yang saban tahun diperingati oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia adalah salah satu perwujudan mahabbah dan cinta kepada Rasulullah Saw.

Seorang ulama Mekkah Sayyid Amin Kutbi menulis dalam gubahan syairnya yang dikutip oleh Syekh Muhammad Alawy al-Maliki menyebutkan bahwa begitu banyak keutamaan yang Allah Swt berikan kepada ummat ini tersebab dengan lahirnya Rasulullah Saw. Bahkan malam lailatul qadar, malam idul fitri, idul adha dan malam mi’raj adalah di antara kebaikan dari lahirnya Rasulullah Saw. Tidak akan ada berbagai keutamaan yang dikenal itu, melainkan karena lahirnya Rasulullah Saw.

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Abu Lahab diringankan azabnya pada setiap Hari Senin, karena ketika Rasulullah lahir Abu Lahab memerdekakan budaknya Tsuwaibah Aslamiyah yang kemudian menjadi ibu susuan Rasulullah Saw sebelum disusui oleh Halimatussa’adiyah. Padahal Abu Lahab seorang yang kafir dan celaan untuknya jelas dalam Al-Qur’an, dan tempat Abu Lahab di Neraka Jahim yang kekal abadi. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh ulama ahli hadis al Hafidz Syamsuddin ibn Nashiruddin Dimasyqi, “jika Abu Lahab yang telah jelas tempatnya di neraka sebagaimana bunyi Surat al Lahab, diringankan azabnya setiap hari senin karena senang dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw, maka bagaimana gerangan dengan seorang muslim yang senang dengan lahirnya Rasulullah Saw, dan meninggal dalam keadaan mentahuhidkan Allah Swt”.

Mengenai hukum merayakan maulid Nabi Saw para ulama dari berbagai mazhab sepakat membolehkannya. Ulama besar hadits al-Hafidh Ibn Hajar al-‘Ashqalani yang menghafal ratusan ribu hadits berpandangan bahwa perayaan maulid adalah bentuk ungkapan rasa syukur akan nikmat Allah yang telah dianugerahkan terhadap umat ini, sebagaimana firman-Nya “Sungguh Allah telah memberi karunia umat ini dengan mengutus di antara mereka seorang Rasul”. Sedangkan al-Hafizh Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi pengarang banyak kitab, memandang bahwa perayaan maulid Nabi sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sehingga tidak berlebihan apabila Syekh Mustafa Sibai menyebutkan dalam karya sirahnya bahwa hanya Rasulullah sahaja yang bisa dibaca secara utuh kehidupan beliau. Kehidupan Rasulullah Saw sarat dengan nilai keteladanan dan kemuliaan budi pekerti. Sehingga ketika ummul mukminin Aisyah ditanyakan mengenai akhlak Rasulullah, beliau menjawab bahwa Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Maka mencontoh kemuliaan akhlak Rasulullah merupakan makna dari memperingati Maulid Rasulullah Saw.
Para penulis di Timur dan di Barat sepakat mengenai kemuliaan akhlak dan besarnya kasih sayang Rasulullah kepada ummat ini, bahkan beliau diutus oleh Allah SWT untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Dan para ulama telah membuat berbagai sayembara untuk menulis tentang kehidupan Rasulullah dari berbagai sisi yang penuh dengan nilai keteladanan dan cinta kasih. salah satu karya terbaik yang pernah terpilih dari ratusan karya yang masuk ke Rabitah Alam Islami adalah tulisan tentang Rasulullah Saw yang berjudul Rahiqul Makhtum ditulis oleh ulama India Syekh Shafiyurrahman al Mubarakfuri yang telah diterjemah ke berbagai bahasa termasuk dalam bahasa Indonesia.
Bagi umat Islam di Aceh khususnya, momentum maulid Nabi adalah salah satu wujud mahabbah dan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Mencintai Rasulullah dengan mengikuti jejaknya, mengenal kehidupannya serta berusaha semampu mungkin meneladani akhlak dan kasih sayang beliau demi mewujudkan masyarakat ideal yang berakhlak mulia. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *