Oleh : Dr. Nurkhalis Mukhtar, Lc., MA
Editor : Riki Asbi

“Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat maka bersiaplah nikmat tersebut akan hilang, dan barangsiapa yang bersyukur maka sungguh ia telah mengikat nikmat tersebut dengan sangat kokoh”. Untaian kalam hikmah ratusan abad yang lalu yang diucapkan oleh Imam Ibnu ‘Ataillah as-Saqandari kiranya masih begitu relevan untuk direnungkan dan dimaknai dalam kehidupan di era sekarang. Hal ini bermakna bila seorang hamba ingin ditambahkan nikmat untuk dirinya maka sepatutnya ia merenungi secara mendalam makna dan esensi syukur.

Syukur begitu mudah untuk ditulis dan diucapkan namun tidak semua orang mampu mengaplikasikan makna syukur dalam kehidupan. Syukur oleh para ulama sering dimaknai dengan “ketetapan hati untuk selalu mencintai Allah, konsistennya anggota tubuh untuk tunduk dan patuh, dan lisan yang selalu menyebut-nyebut dan memuji Tuhannya”. Dari defenisi tersebut dapat dikerucutkan bahwa syukur memiliki tiga pilar yang mesti ada pada diri manusia. Pilar-pilar tersebut adalah; hati, badan dan lisan. Syukur tidak akan sempurna tanpa gabungan ketiga pilar tersebut.

Pilar pertama adalah hati. Hati adalah muara dari setiap inspirasi kebaikan. Seorang hamba yang mampu menata hatinya dengan baik maka dapat dipastikan ia akan selamat di dunia dan akhirat. Bahkan Rasulullah menganjurkan kita untuk sering-sering bertanya kepada hati kecil karena ia lebih dekat kepada kebenaran. Hati yang senantiasa bersyukur, meyakini bahwa setiap nikmat yang diperoleh merupakan pemberian dari Allah. Hati yang percaya bahwa kesuksesan yang diraih bukan karena kepintaran dan kehebatannya, namun merupakaan anugerah yang diberikan Allah.

Pilar kedua ada pada anggota badan. Manusia merupakan ciptaan Allah yang sempurna, dianugerahi anggota tubuh yang sempurna. Manusia memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya. Dalam proses penciptaan manusia dengan kesempurnaan tersebut tidaklah sia-sia. Allah memerintahkan manusia untuk tunduk dan patuh menghambakan diri hanya kepada-Nya. Ini bermakna bahwa seluruh anggota tubuh yang Allah titipkan merupakan amanah dari Allah. Anggota tubuh tersebut harus dibawa untuk mentaati Allah dengan melakukan amalan-amalan shalih. Namun sebaliknya bila tubuh dipergunakan pada perkara yang dimurkai Allah, maka hamba tersebut tidak mensyukuri nikmat kesehatan tubuhnya.

Pilar ketiga dalam bersyukur ada pada lisan. Para ulama salaf selalu membiasakan diri mereka dengan mensyukuri nikmat dengan lisan. Lisan digunakan untuk sering-sering menyebut nikmat dan pemberian Allah. Lisan yang selalu berzikir, bersyukur terhadap berbagai nikmat yang digapai, sehingga ia yakin bahwa pencapaian nikmatnya merupakan anugerah Allah yang wajib disyukuri. Lisan yang bersyukur juga tertata dengan baik, berhati-hati dalam setiap ucapan yang dikeluarkan sehingga tidak ada yang merasa tersakiti. Lisan yang bersyukur adalah lisan yang terjaga dan terdidik hanya untuk berkata-kata yang baik dan memberi nasehat sesama.

Tiga pilar di atas tidak bisa saling terpisah karena bisa menimbulkan pemahaman syukur secara dangkal dan bahkan keliru. Ketika hati, anggota badan dan lisan menyatu, maka yang akan muncul adalah keindahan-keindahan dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Hati yang bermuara di dalamnya segala kebaikan pasti akan menampilkan ucapan-ucapan yang jujur dan keluar dari hatinya sehingga pada tataran terakhir ucapan yang didengungkan bukan hanya retorika belaka namun diejawantahkan dalam perbuatan dan sikap antar sesama. Seseorang yang mampu mengaplikasikan ketiga pilar tersebut adalah manusia yang sempurna sebagaimana dia telah diciptakan dalam bentuk yang “paling sempurna”. Sepatutnyalah perpaduan tiga pilar tersebut merupakan tugas dan kewajiban bersama demi memaknai syukur yang sebenarnya.

Barangkali kita sempat membaca firman Allah dalam surat Saba’ ayat lima belas. Dimana Allah Swt menggambarkan kepada kita para hamba-Nya untuk mengambil pelajaran berharga dari tragisnya nasib kaum Saba’. Kaum Saba’ dalam peta dunia terletak di daerah Negara Yaman sekarang. Kaum Saba’ pada masanya dikenal sebagai Kaum yang makmur sentosa di bawah kekuasaan seorang wanita yang dikenal dengan “Ratu Saba”. Kerajaan Saba’ dikenal memiliki peradaban yang hebat ketika itu, salah satu keajaiban yang mereka miliki adalah “bendungan Ma’rib”. Sebuah bendungan raksasa yang mengalirkan air ke berbagai pelosok wilayah mereka untuk mengirimkan kesuburan kepada sawah dan ladang.

Kaum saba’ hidup dari pertanian karena negeri mereka adalah negeri yang subur. Sehingga di dalam kitab-kitab tafsir diceritakan bahwa saking makmur dan sentosanya mereka, seorang wanita hanya meletakkan nampan/bakul di atas kepalanya dan melewati sebuah kebun maka di ujung kebun nampan yang tadinya kosong sudah penuh terisi dengan buah-buahan. Dan di wilayah Saba’ lalat, kutu busuk, kepinding, dan nyamuk tidak bisa hidup karena cuaca mereka seperti di dalam AC. Dengan berbagai nikmat yang sempurna, ternyata mereka telah lupa. Lupa bahwa nikmat yang mereka makan dan mereka peroleh adalah karunia Allah. Mereka begitu “pede” dan yakin bahwa setiap nikmat yang mereka peroleh adalah hasil jerih payah dan usaha tangan mereka. Mata hati mereka telah buta dan tidak bisa berfikir dengan normal. Karena hati mereka telah gelap, mereka tidak mengakui bahwa Allah lah pemberi segala nikmat yang mereka nikmati.

Ketika Syukur tidak lagi menjadi sikap kaum Saba’, maka di saat itulah Allah mengirim tentara-Nya berupa Air bah yang mirip dengan Bencana Tsunami di Aceh. Air bah disebut dalam Al-Qur’an dengan sail ‘arim berhasil memporak-porandakan segala kehebatan yang mereka miliki. Bendungan besar yang mereka bangga-banggakan dan menjadi sentral kehidupan porak-poranda. “untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak”. Itulah ungkapan yang tepat untuk kaum Saba’ yang ditimpa nestapa air bah. Yang lebih menyedihkan setelah terjadi banjir besar makanan yang tumbuh dari sisa tumbuhan mereka menjadi pahit dan busuk.

Kisah kaum Saba’ bukanlah isapan jempol dan dongeng perlipur lara, kisah tersebut telah dijelaskan oleh para ahli tafsir secara mendetil dalam karya mereka (baca: Kitab Tafsir). Cerita pilu dan nestapa kaum Saba’ sepatutnya menjadi cermin bagi kita untuk kembali menata hati dan pikiran kearah yang lebih baik. Ada hikmah yang berharga dari kisah tersebut, bahwa setiap nikmat yang diperoleh oleh setiap hamba Allah merupakan karunia Allah. Jangan terlintas sama sekali bahwa nikmat yang sedang diperoleh adalah hasil kerja keras tanpa melibatkan Allah di dalamnya. Karena pekerjaan apapun yang dilakukan manusia tanpa ada ridha Allah di dalamnya akan sia-sia dan tidak bermakna.

Terdapat berbagai ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan manusia untuk senantiasa bersyukur. Seseorang yang bersyukur terhadap nikmat Allah maknanya ia sedang bersiap memperoleh tambahan nikmat dari Allah. Demikian pula seseorang yang kufur nikmat, ia tentu sedang menunggu petaka hadir dalam hidupannya. Syukur yang dilakukan seorang hamba tidak menambaah keagungan Allah. Allah tidak membutuhkan pujian dari kita, karena Allah maha kaya dan maha mulia. Segala syukur yang kita utarakan adalah kembali kebaikannya bagi diri kita sendiri. “barangsiapa yang bersyukur maka ia mensyukuri untuk dirinya”.

Dalam redaksi ayat yang lain Allah mengumpamakan sebuah wilayah yang bersyukur dengan wilayah yang aman, makmur, damai, dan sentosa. Namun di saat penduduk wilayah kufur kepada Allah, ketika itulah berbagai bencana datang menimpa mereka. Di antara bencana terbesar yang dihadapi sebuah wilayah yang tidak bersyukur adalah merebaknya ketakutan dan kelaparan. Konflik yang panjang yang dihadapi oleh sebuah wilayah barangkali penduduknya kurang bersyukur terhadap nikmat perdamaian dan kesejahteraan yang telah ada. Ternyata rasa syukur penting untuk mengalirkan energi positif terhadap kemajuan dan keamanan sebuah bangsa.

Bila seorang manusia mau sejenak berfikir dan merenungi nasibnya ketika berada dalam kandungan ibunya, dan ketika ia dilahirkan, dia tidak tahu apa-apa. Kemudian Allah menganugerahinya mata dan telinga serta berbagai nikmat yang lain agar hatinya bersyukur. Nikmat mata yang dimilikinya saja sungguh tidak mampu dihitung betapa mahal harganya. Bahkan dalam sebuah kisah disebutkan bahwa salah seorang ahli Ibadah Bani Israil yang beribadah dalam waktu yang lama, kemudian ia ingin menimbang pahala ibadahnya tersebut dengan mata yang ia miliki, maka berbagai amalannya yang banyak itu belum mampu membayar nikmat pengelihatan matanya. Belum dihitung anggota tubuh yang lain yang sungguh tidak mampu dihargakan dengan hitungan materi yang kita punya. Subhanallah.

Kita masih ingat beberapa waktu yang lalu bangsa kita tercinta ditimpa oleh bencana kabut asap sehingga menimbulkan banyak korban yang terkena berbagai penyakit pernapasan bahkan ada beberapa yang meninggal. Penyebabnya hanya satu saja, ada orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah, hutan yang begitu luas yang telah Allah anugerahi kemudian dibakar untuk mewujudkan keserakahan, sehingga udara yang tadinya bersih dan sehat tibab-tiba tercemar karena unsur keserakahan dan ketamakan diri. Ketika rasa syukur telah lenyap maka berbagai cobaan akan terus datang menghampiri kita.

Rasulullah SAW. adalah figur paripurna yang telah membumikan makna syukur dalam kehidupannya. Beliau telah memberi kita teladan bagaimana mensyukuri nikmat Allah. Rasulullah mendirikan malam dengan bermunajat kepada Allah sehingga diriwayatkan bahwa kaki beliau bengkak, Ummul Mukminin Aisyah bertanya “untuk apa Engkau bersusah payah beribadah, padahal Tuhanmu telah mengampuni setiap kekeliruanmu yang lalu dan yang akan datang?”, Rasulullah menjawab “bukankah aku patut menjadi hamba Allah yang senantiasa bersyukur”. Beliau juga meminta kepada Tuhannya untuk diberi sehari lapar dan sehari kenyang agar di hari lapar dia bersabar dan di hari kenyang dia bisa bersyukur.

Rasulullah SAW. juga figur pendidik terbaik. Beliau mengajarkan kepada para sahabatnya untuk senantiasa memaknai syukur dalam kehidupan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah mengajarkan kepada salah seorang sahabat belau Muaz bin Jabal untuk selalu membaca doa setelah selesai shalat (Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika) artinya “ya Allah, bantulah hamba untuk mengingat dan mensyukuri nikmatmu, serta karuniakan aku bagus/sempurna dalam beribadah kepadamu”. Anjuran Rasulullah tersebut juga berlaku bagi kita para pengikutnya agar senantiasa meneladani beliau dan amalan para sahabat-sahabatnya.

Bila di runut ke fase sebelum Rasulullah Saw diutus, kita akan menemukan para Nabi juga memiliki inti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, salah satunya mengenai bersyukur. Sebut saja Nabi Sulaiman yang dikenal sebagai seorang raja yang menguasai hampir dua pertiga belahan dunia, dimana ia bisa memahami berbagai bahasa termasuk bahasa binatang; semut, burung Hud-hud dan lain-lain. Ia juga memiliki pasukan yang terdiri dari manusia dan jin, bahkan raja jin yaitu ‘Ifrit juga termasuk pasukannya. Mengenai kepatuhan jin kepada Nabi Sulaiman hanya dalam kepatuhan sebagai anak buah dan majikan, tidak dalam keyakinan dan agama. Nabi Sulaiman juga dikenal mampu pergi dari suatu tempat ke tempat lainnya sekejap mata dengan bantuan para asistennya terutama Asif bin Barkhia; seorang pemuda yang mengusai ilmu di atas rata-rata.

Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman, ketika usia beliau menanjak 40 tahun, beliau berdoa kepada Allah (Rabbi auzi‘ni an asykura nikmatakallati an‘amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a‘mala shalihan tardhahu wa adkhilni birahmatika fi ‘Ibadikasshalihin) “Duhai Tuhanku, beri aku kekuatan untuk mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahi kepadaku, kedua orangtuaku, dan agar amalanku Engkau terima, dan masukkan aku ke dalam golongan para hambamu yang shalih”. Sebuah doa yang sarat dengan hikmah dan nilai keluhuran yang tinggi. Usia 40 tahun merupakan fase beralihnya status seseorang dari seorang pemuda menjadi seorang orang tua yang sering disebut oleh orang arab dengan “syekh”.

Singkatnya, betapa syukur adalah perbuatan yang mulia, dan menjadi muara setiap kebaikan yang akan digapai seorang hamba. Rasulullah adalah pribadi yang bersyukur, mengajarkan kepada para sahabatnya untuk selalu bersyukur. Demikian pula kita para pengikut beliau semestinya menerapkan syukur dalam kehidupan sehari-hari sehingga Allah mencintai kita, dan akan melimpahkan berbagai nikmat yang telah dipersiapkan untuk para hambanya yang bersyukur. Sehingga kota Banda Aceh yang kita harapkan menjadi Madani dan memiliki banyak prestasi bisa memaknai prestasi tersebut dalam rasa syukur yang mendalam sehingga prestasi lainpun akan terus muncul dan merasakan bahwa segalanya adalah anudgerah Allah semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *