Penulis : Mohammad Haikal, ST., MIFP

Disadari atau tidak cara kita merespon suatu masalah akan membawa pada konsekuensi yang akibatnya bersifat langsung atau tidak langsung. Pilihan respon yang tidak memiliki kecukupan pertimbangan akan membawa efek samping yang kadang membahayakan. Sebagai contoh, seorang lelaki yang sibuk bekerja di sebuah kantor merasa kewalahan dalam menyelesaikan pekerjaannya, kemudian ia memilih untuk rehat sesaat. Rehatnya sekitar 10 menit. Dalam rehat singkat itu dirinya tidak hanya menenangkan pikiran agar energi kreatif memenuhi kepalanya, ia juga memilih merokok dengan alasan agar pikirannya menjadi lebih kreatif. Kepulan asap membawa imajinasinya bekerja.

Atas pilihan merokok tersebut, masalah baru timbul. Merokok yang awalnya ditujukan agar memicu kreativitas malah berujung pada dokter paru.

Contoh kedua, walau agak berlebih-lebihan, tapi menghadirkan insight yang lebih kuat. Seorang pedagang dihentikan oleh seorang perampok jalanan. Belum selesai perampok itu merampungkan kejahatannya, perampok yang lain tiba. mereka bertarung memperebutkan harta si pedagang. Bukannya lari, pedagang berusaha mendamaikan mereka.

Masalah baru yang membahayakan baru saja diinisiasi oleh pedagang.

Hal-hal serupa dengan berbagai contoh keseharian kerap kita jumpai. Masalah seolah-olah telah diselesaikan namun kenyataannya malah mengundang masalah baru. Menyelesaikan masalah dengan masalah baru bukanlah pilihan bijak. Fenomena ini bisa diatasi bila dipahami dengan benar konsep second-order thinking. Sebuah konsep yang mengajak untuk melihat lebih dalam atas berbagai pilihan. Cara berpikir ini membutuhkan kerja ekstra pikiran dan harus menahan diri dari tindakan reaktif. Berpikir dalam senyap dengan tahapan-tahapan yang matang.

Manusia cenderung merespon cepat dan melihat hanya pada lapisan permukaan saja. merespon cepat tidak menghabiskan energi sehingga dalam jangka pendek cukup memuaskan. Hanya saja, hal ini tidak efektif untuk jangka panjang karena bisa mencederai. Akibat yang harus ditanggung mendatangkan kerugian dalam jangka waktu lama, persis pada contoh di atas, merokok bisa menyebabkan gangguan kesehatan di kemudian hari sehingga menggerogoti kualitas hidup. Atau, pedagang pada contoh kedua bisa terbunuh oleh perampok yang telah didamaikannya.

Hanya melihat masalah pada permukaannya saja disebut dengan first order thinking.Pola pikir ini reaktif. Sesuatu direspon tanpa melihat arah atau akibat lain yang akan ditimbulkan. Tanpa disadari, siklus first order thinking ini terus berputar, sehingga bisa terjebak di dalam masalah baru akibat atas respon masalah awal. Maksudnya begini, masalah A direspon secara gegabah membuat masalah baru, sebut saja masalah B. Masalah B direspon lagi menghasilkan masalah C dan seterusnya. Berbeda dengan pola pikir ini, second – order thinking memiliki konsep yang berbeda. Kehadirannya membawa pada cara berpikir yang dalam dan kompleks. Kinerja yang mencuat hanya dapat diperoleh melalui second-order thinking. Pun energi yang dibutuhkan juga lebih banyak terserap pada saat orang menerapkan second order thinking sehingga second-order thinking bukan hal mengasyikkan buat sebagian besar orang. Second order thinking adalah cara berpikir dengan telaah yang hati-hati agar respon awal terhadap masalah A bisa selesai tanpa menghasilkan efek samping menjadi masalah C.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengasah second-order thinking

Pertama, Bertanyalah “selanjutnya apa?” (and then what?). Pertanyaan ini akan mengarahkan pikiran untuk memetakan akibat suatu pilihan yang telah diambil.

Pikiran yang dalam akan terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Kembali pada tabel di atas, alasan yang mendasari dipilihnya rokok adalah merokok dapat membantu pikiran menjadi rileks. Adakah hal lain yang dapat merileks-kan pikiran? Ada: meditasi singkat, berjalan menyisiri taman, atau berbincang masalah ringan adalah pilihan-pilihan lain yang lebih berkualitas.

Pilihan-pilihan itu timbul dari kemampuan berpikir tajam dengan menguji pikiran-pikiran awal dengan pertanyaan sederhana : selanjutnya apa?

Berbagai pilihan yang diperoleh dengan pertanyaan “selanjutnya apa” dikalkulasi dan dipilih kembali. Tentu saja pilihan akan jatuh pada alternatif yang membawa pada banyak kebaikan.

Kedua, lihat akibat dari suatu kejadian dalam lintasan waktu. Sebagai contoh, rentang waktu yang dilakukan bisa setiap kelipatan 1 bulan atau 6 bulanan.

Ilustrasi di atas hanya sebagai contoh saja bagaimana konsekuensi sebuah kebiasaan dalam lintasan waktu. Rasa duka akan timbul pada akhir masa: Menyesal. Interval waktu tergantung jenis masalah, tidak sama antar suatu masalah dengan masalah lain. Misal, seorang anak tidak merasa ada masalah kalau tertinggal dari anak lain selama satu bulan, namun akan menjadi masalah kalau tertinggal selama satu tahun (tinggal kelas). Lain lagi bagi juara dua olimpiade, sepersekian detik saja sudah membuat dirinya kecewa.

Sisi Lain dari Berpikir Mendalam

Hal lain yang bisa dilakukan dalam berpikir mendalam adalah merespon sesuatu dengan pertanyaan : Mengapa hal ini bisa timbul pertama sekali?

Mengapa pertanyaan ini penting dilakukan? sebagai antisipasi untuk tidak melakukan sesuatu yang salah kaprah. Perhatikan ilustrasi berikut ini.

Kamu berjalan di atas jalan sempit berliku mendaki gunung. Di tengah jalan, tiba-tiba kamu menemukan tiang-tiang bambu menghalangi jalan. Akibatnya, kamu harus mengambil jalan memutar. Apa yang akan kamu lakukan?

Bila tanpa menghiraukan apapun, bisa saja tiang-tiang bambu itu dicabut dan dicampakkan di sisi jalan; masalah selesai. Terlihat memang segampangi itu. Anggapan pada pikiranmu yang menyatakan bahwa bambu ini sebagai penghalang saja sudah cukup sebagai basis pengambilan keputusan untuk mencabut bambu itu dan menghilangkannya; namun, bagaimana kalau di belakang bambu itu ada perangkap babi?

Tentu, kamu korban pertama yang yang terjerumus di dalamnya.

Ilustrasi di atas ingin menjelaskan, sebelum mengambil sebuah keputusan atas sebuah problem yang ada, maka seyogyanya selalu memperhatikan berbagai unsur-unsur lain yang melatarbelakangi masalah tersebut.

Mempertanyakan “Mengapa bambu-bambu ini didirikan di badan jalan?” atau “Mengapa bambu ini mesti masuk ke badan jalan saat pertama sekali dibangun?”

Pertanyaan tersebut dicari jawabannya. Bila jawabannya mengarah bahwa pada saat pertama sekali dibuat, tiang-tiang itu sebenarnya bukan berada pada jalan atau dengan kata lain jalan setapak itu masih sangat kecil sehingga tiang itu tidak merintanginya.

Kalau begini keadaannya, maka tiang itu bisa dicabut dan digeser.

Berbeda dengan keadaan di atas, bila tiang-tiang bambu itu sengaja dipasang karena di belakang tiang tersebut sengaja dipasang perangkap babi. Babi sering melewatinya karena ada sumber air di sana. Tentu saja, alangkah baiknya tiang itu ditempat semula.

Problem-problem seperti ini dalam dunia nyata kerap ditemui pada saat pemimpin menerapkan strateginya. tanpa pertimbangan yang dalam meluluhlantakkan apa yang telah dibangun oleh pemimpin sebelumnya cenderung merugikan, selain kerusakan masif, juga kehilangan kesinambungan.

BIAS KEBERLANGSUNGAN

Ada cerita menarik yang dinukil dalam website Survivorship Bias mengenai bias keberlangsungan dimana sebuah kekeliruan dalam menafsirkan peristiwa mengakibatkan keputusan yang diambil juga menjadi salah. Ceritanya begini.

Secara garis besar cerita ini bertutur mengenai Perang Dunia II, saat itu Amerika mengirim sejumlah pesawat ke daerah musuh. Sebagian pesawat rontok dan tidak ada kabar beritanya; kerugian besar yang terus berlangsung. Para petinggi militer ingin mengadakan perbaikan pesawat sehingga besar kerugian dapat diturunkan. Kemudian, datanglah Wald: Dia seorang ahli matematika kelahiran Hungaria untuk diminta pendapatnya. Dia perhatikan pesawat datang dan pergi. Beberapa pesawat berhasil kembali ke pangkalan setelah selamat dari tembakan musuh. Pesawat yang kembali dalam kondisi remuk pada bagian bawah sayap. Lubang-lubang peluru membuat dinding pesawat bopeng.

Petinggi militer mengambil keputusan untuk menguatkan badan pesawat dengan menambah ketebalan pada dinding bagian bawah sayap. Harapannya, badan pesawat yang kembali itu tidak remuk lagi dan pesawat menjadi kuat.

Watson berpendapat lain. Dia mengajukan logika yang berbeda. Bagian pesawat yang remuk itu adalah bagian terkuat, jadi tidak membutuhkan penambahan ketebalan. Menurut Wald, seharusnya bagian lain seperti moncong pesawat, ekor, atau badan di atas sayap lah yang mendapat tambahan penguatan. Tentu saja pendapat Wald mengejutkan.

Bagi kebanyakan orang, permasalahan pesawat yang remuk di bagian bawah sayap akan dilihat seperti ini:

Tapi, Watson melihatnya begini:

Alangkah cerdiknya Wald. Dia bisa menemukan kejernihan dalam silang sengkarut masalah. Kemampuan Wald mengidentifikasi akar masalah dan akibat lanjutannya patut diacungi jempol. Apa yang dilakukan Wald adalah dia mempertanyakan apakah fenomena yang dilihat pada saat itu sudah lengkap atau masih ada bagian yang belum muncul. Apakah seluruh peristiwa itu dipahami secara utuh, atau masih adakah bagian-bagian yang hilang?

Dari kejadian tersebut terlihat bahwa kapal yang pulang tidak pernah memberitahukan secara eksplisit bagian yang rapuh. Informasi bagian yang rapuh telah terkubur bersama bangkai pesawat yang telah ditembak oleh musuh. Wald harus bisa memahami dengan pikirannya sendiri untuk mencari informasi yang hilang itu. Pesawat yang kembali dengan selamat hanya membawa luka pada tubuhnya, luka yang tidak membuat pesawat itu terhempas ke tanah; namun, luka pada pesawat inilah yang kerap disalahpahami. Luka yang tidak membunuh dianggap luka yang mematikan. Sedangkan luka yang menghancurkan luput karena tiada kabar berita.

Jadi, kembali pada topik awal, cerita di atas merupakan keuntungan memiliki kecakapan second order thinking. Pola pikir ini adalah awal dari berpikir mendalam. Disiplin menguji pikiran dengan pertanyaan yang mengarah pada level lebih tinggi akan mendorong terbentuknya cara berpikir reflektif. Cara berpikir ini berguna dalam memandang peristiwa dan juga berkontribusi menghadirkan solusi-solusi cerdas atas berbagai persoalan dalam hidup.

Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *