Penulis : Dr. Nurkhalis Mukhtar, LC., MA

Beliau adalah anak dari ulama Lamnga Montasik yang bernama Teungku Yunus dikenal dengan sebutan Teungku Chik di Lamnga, karena mendirikan lembaga pendidikan di Lamnga Montasik. Nama kecilnya Teungku Ibrahim bin Teungku Yunus, namun setelah menjadi ulama dan tokoh berpengaruh, masyarakat mengenal beliau dengan panggilan Teungku Syekh Ibrahim “Ayahanda”.

Menurut keterangan Prof Ali Hasjmi, Teungku Syekh Ibrahim Ayahanda merupakan ulama yang lahir mendahului zamannya, disebabkan kontribusi beliau yang besar dalam perjuangan dan pendidikan di Aceh. Teungku Syekh Ibrahim Lamnga lahir pada tahun 1895, beliau hampir sebaya dengan Abu Lampisang yang lahir tahun 1894, Abu Cot Kuta lahir 1896, Teungku Abdul Wahab Kenaloi lahir 1898, Teungku Abdussalam Meuraksa lahir 1899, Abu Syech Mud lahir 1899 dan para ulama lainnya yang segenerasi dengan Teungku Syekh Ibrahim Lamnga.

Sejak kecil Teungku Syekh Ibrahim Lamnga telah dikenal dengan kecerdasan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Beliau belajar langsung kepada ayahnya Teungku Yunus yang juga ulama dan pimpinan dayah Lamnga.

Setelah menguasai berbagai cabang keilmuan secara mendalam, Teungku Syekh Ibrahim Lamnga kemudian melanjutkan pengajiannya kepada ulama lulusan Mekkah yaitu Teungku Syekh Muhammad Abbas Lambirah yang dikenal dengan Teungku Chik Lambirah abang dari Teungku Syekh Muhammad Jakfar Lamjabat.

Kepada Teungku Chik Lambirah, beliau memperdalam berbagai cabang ilmu pengetahuan sehingga telah mengantarkan beliau menjadi seorang Syekh.

[pullquote]Teungku Chik Lambirah juga ulama yang pernah belajar ke berbagai dayah sebelum mematangkan karier keilmuannya di Mekkah. Teungku Chik Lambirah adalah anak dari Teungku Chik Muhammad Lambirah, pendiri Dayah Lambirah yang banyak disinggahi oleh para penuntut ilmu pada masa yang lalu.[/pullquote]

Setelah matang keilmuannya, Teungku Syekh Ibrahim Lamnga kemudian ditunjuk sebagai pimpinan Dayah Lamnga setelah wafat ayah beliau Teungku Chik Yunus Lamnga. Teungku Syekh Ibrahim Lamnga adalah ulama yang memiliki ide-ide yang melampaui zamannya, disebutkan pada tahun duapuluhan beliau telah menginisiasi pembangunan dayah secara permanen dua lantai seperti masa sekarang, walaupun bangunan tersebut tidak bertahan lama ketika itu.

Selain itu beliau juga memasukkan berbagai terobosan ke dayahnya dengan berbagai keahlian bagi para santrinya, sehingga hal-hal yang dilakukan beliau dianggap asing pada masanya. Padahal di tahun tujuhpuluhan, apa yang beliau gagas, sama dengan pandangan Prof Mukti Ali, mantan Menteri Agama Indonesia.

Pada tahun tiga puluhan, Teungku Syekh Ibrahim Lamnga berangkat haji dengan para rombongan yang beliau bawa, bedanya beliau dengan kesepakatan bersama membeli mobil khusus untuk kemudahan para jama’ah haji yang melaksanakan ibadah haji dan berziarah ke tempat tempat khusus yang mustajab doa.

Di akhir tahun 1930, beliau menyewa bus khusus untuk membawa para pelajar Aceh yang berpotensi ke Padang Sumatera Barat untuk belajar di Sumatera Thawalib, Normal Islam dan sekolah-sekolah Islam yang menjamur di Padang ketika itu.

Beliau juga tokoh yang merintis organisasi JADAM yaitu sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan dengan singkatan dari Jam’iyyah Diniyah Al Montasikiyah, yang mengkoordinir seluruh lembaga pendidikan di seputaran Montasik.

Beliau dengan kiprahnya yang sangat maju tersebut dianggap berbahaya oleh Belanda, sehingga sepulangnya beliau dari Jawa untuk menjemput Teuku Muhammad Ali Panglima Polem Daud Syah bertambah semangatnya untuk kemerdekaan. Sehingga hampir di tiap ceramah dan pengajiannya beliau menggelorakan semangat merdeka.

Demi melihat gelagat yang berbahaya, maka Belanda ingin menangkap Syekh Ibrahim Lamnga.

Sebelum ditangkap, beliau kemudian hijrah ke Singapura untuk mencari iklim kebebasan. Cerita lari dan menyamar beliau hampir sama dengan kisah Teungku Abdul Hamid Samalanga atau Ayah Hamid anak dari Teungku Haji Idris Tanjungan, Ayah Hamid hijrah ke Mekkah karena ingin ditangkap Belanda karena keterlibatan dalam Serikat Islam, sebuah organisasi yang dianggap berbahaya oleh Belanda.

Sesampai di Singapura, Teungku Syekh Ibrahim Lamnga disambut baik oleh orang-orang Melayu di sana. Sehingga beliau membuat sebuah Madrasah Lil Banat dan menerbitkan Majalah Donya Akhirat. Menjelang mendaratnya Jepang, dalam keadaan Belanda yang tidak menentu, pulanglah Teungku Syekh Ibrahim Lamnga dengan selamat.

Pada masa Penjajahan Jepang, beliau lebih menfokuskan mengajarkan para santri-santrinya. Dan setelah perjalanan yang panjang dengan segenap pengabdian, wafatlah ulama hebat ini di tahun 1946. Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *